Kunker Dirjen ke Medan (27/12)


Oleh Endah Purnamasarii
Senin, 27 Desember 2010 15:00

Kunker Dirjen ke Medan:

Dunia Kampus Diminta Monitor Pelayanan Peradilan Agama

Dirjen Badilag sedang memberikan ceramah umum, Jumat (24/12) sore, di Kampus IAIN Sumatera Utara, Medan. Duduk dari kanan: Rektor, Prof.Dr. Nur Fadhil Lubis, MA; KPTA, Drs. H. Soufyan M.Saleh, SH; Dekan Fak. Syari’ah, Dr.HM Jamil, MA dan KPA Binjai, Drs. H. Almihan, SH, MH.

Medan, Badilag.net |25-12-2010|

“Mahasiswa dan civitas akademika lainnya dipersilahkan untuk memonitor pelaksanaan pelayanan yang dilakukan peradilan agama. Kami senang, jika ada kerjasama, atau kegiatan Kuliyah Kerja Sosial dari Mahasiswa yang bertujuan untuk mengawasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik yang dilakukan oleh peradilan agama”

Itulah di antara kata-kata Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, ketika memberikan ceramah umum tentang “Peluang dan Tantangan Mahasiswa dan Alumni Fak. Syari’ah Sebagai Praktisi Hukum di Badan Peradilan”, pada Pelatihan Keadvokatan Mahasiswa dan Alumni Fakultas Syari’ah IAIN Sumatera Utara, di Medan, Jumat (24/12) sore.

 

Ceramah yang diikuti oleh sekitar 80 orang ini, dihadiri pula oleh Rektor, Dekan Fak Syari’ah, guru besar dan para dosen, serta KPTA dan beberapa KPA.

Pelayanan PA Masih Dinilai Belum Memuaskan.

“Saya tahu banyak program Badilag untuk meningkatkan pelayanan di PA secara nasional. Tapi di lapangan, masih terjadi hal-hal yang belum memuaskan masyarakat pencari keadilan”, Dr. Nursiah, seorang dosen alumni Mc.Gill University Canada memberikan komentar dalam sessi tanya jawab.

Dosen yang juga pegiat di Pusat Studi Wanita ini merinci sekilas tentang hal-hal yang perlu dibenahi, seperti beberapa putusan majlis PA yang ‘unexecutable’, terutama yang berkaitan dengan hak-hak (bekas) isteri atau anak.

Pelayanan yang kurang menyenangkan dari aparat PA dan bertele-telenya proses sehingga memakan waktu yang sangat lama, juga jadi kritikan dosen energik yang 18 tahun lalu pernah kenal dengan Dirjen, ketika yang bersangkutan mengikuti pelatihan persiapan studi ke luar negeri, di mana Dirjen –pada saat itu masih sebagai Kepala Subdit- menjadi salah satu fasilitatornya.

Kritikan itu ditanggapi positif oleh Dirjen. “Saya senang ada kritikan yang terus terang dari kampus atau masyarakat lainnya”, katanya.

“Saya mohon kalau ada pelayanan dari kawan-kawan di PA yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan sikap, keuangan atau integritas, silahkan laporkan kepada KPA, KPTA atau kepada Badilag. Insya Allah akan segera kami tindak lanjuti”, pinta Dirjen.

“Tapi kalau ketidakpuasan itu disebabkan karena prosedur ketentuan peraturan perundangan, kami harap masyarakat memahaminya, atau menyampaikan kepada pembuat peraturan perundang-undangan itu”, katanya lagi.

Dirjen berusaha menghimpun masukan-masukan dari masyarakat luas tentang pelayanan yang diberikan PA. Bahkan survey tentang kepuasan para pengguna pengadilan berskala besar secara nasional pernah dilakukan, kerjasama dengan donor dan peneliti independen, pada tahun 2007 dan 2009.

 


Sebagian Peserta

Peluang dan Tantangan Alumni Fakultas Syari’ah (FSy)

Dirjen menjelaskan bahwa peluang alumni FSy kini semakin terbuka. “SDM yang diperlukan oleh Peradilan Agama (PA) pada umumnya merupakan alumni FSy. Bahkan alumni FSy ini, tidak saja dapat menjadi hakim dan aparat PA, tapi juga menjadi Hakim Agung, atau pejabat di Mahkamah Agung”.

“Kini banyak alumni FSy yang menjadi pegawai dan pejabat di MA, bahkan menjadi hakim agung dan beberapa unsur pimpinan MA”, tambah Dirjen.

Lebih luas dari itu, kata Dirjen, alumni FSy dapat mengisi profesi-profesi lainnya yang berhubungan dengan dunia peradilan, seperti menjadi pengacara, arbiter dan mediator.

Dirjen juga menjelaskan tentang program Badilag yang berkaitan dengan mediasi dan pos bantuan hukum, yang kini sedang digalakkan. Program ini banyak memerlukan peran alumni FSy.

Namun demikian, kata Dirjen, tantangannyapun semakin besar. Persaingan di antara para alumni FSy, bahkan dengan alumni Fakultas Hukum (FH), semakin ketat.

“Oleh karena itu, kualitas harus semakin ditingkatkan, terutama dalam penguasaan hukum acara, hukum materi, hukum Islam dan membaca ‘kitab kuning’”, katanya lagi.

“Kelemahan alumni FSy dibandingkan dengan alumni FH, adalah dalam hal penguasaan hukum acara”, ungkap Dirjen terus terang. Dirjen mengharapkan agar alumni FSy lebih ‘leading’ dibandingkan dengan alumni FH dalam penguasaan hukum materi, hukum Islam dan terutama penguasaan ‘kitab kuning’.

Namun demikian, Dirjen yang juga merupakan alumni FSy menyatakan keprihatinannya atas kualitas alumni FSy – setidaknya yang mengikuti test Cakim PA- dalam penguasaannya terhadap ‘kitab kuning’.

Ironisnya lagi, dalam beberapa kasus, alumni FSy ‘kalah’ dari alumni FH dalam penguasaan ‘kitab kuning’ yang selalu diujikan dalam tes Cakim, baik tertulis maupun lisan, setiap tahun. “Ini terjadi, mungkin karena pada waktu kuliyahnya, mahasiswa FH ini sambil ngaji di pesantren, sementara mahasiswa FSy tidak pernah di pesantren”, jelas Dirjen.

Dalam kaitan dengan ini, Dr. Nursiah, sangat mendukung agar penguasaan terhadap ‘kitab kuning’ terus dijadikan materi tes bagi para Cakim PA. “Tanpa menguasai bahasa Arab, kita tidak bisa meng’eksplor’ hukum Islam dari sumber-sumbernya yang berbahasa Arab”, komentarnya dalam sessi tanya jawab.


KPA Binjai dan Rektor sedang menandatangan dokumen MoU Kerjasama antara PA dan FSy

Dirjen menekankan bahwa hubungan antara PA dan FSy tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan di bidang SDM dan pengembangan hukum sangatlah erat.

PA dapat dijadikan laboratorium bagi para mahasiswa dan dosen FSy. Sementara FSy dapat memberikan kontribusinya dalam pengembangan PA, baik melalui pengkajian, survey, penelitian atau mo
nitoring pelayanan.

Kerjasama formal atau informal yang selama ini telah berjalan perlu terus dipelihara dan ditingkatkan. “Oleh karena itu, saya menyambut baik dan mengapresiasi atas penandatanganan MoU antara FSy IAIN SU Medan dengan PA Binjai dalam kaitan pengembangan SDM yang saling mengutungkan”, kata Dirjen.

Memang benar, setelah acara kuliyah umum, dilakukan penandatanganan MoU yang dilakukan oleh KPA Binjai dengan Dekan FSy. KPTA dan Rektor menjadi saksi. “MoU ini hanyalah formalitasnya saja, sedangkan pelaksanaan kerjasamanya telah berjalan”, kata Almihan, KPA Binjai, kepada Dirjen.

“Kerjasama semacam ini perlu terus dikembangkan”, kata Dirjen kepada Soufyan Saleh, KPTA Medan yang selalu mendampingi Dirjen dalam berbagai kegiatan selama kunker di Medan ini.

Melalui Badilag.net, Dirjen juga mengharapkan agar seluruh PA bersikap positif dan terbuka terhadap semua kritikan masyarakat. “Sikap positif terhadap kritik akan menjadikan kita termotivasi untuk selalu melakukan perubahan menuju perbaikan yang diharapkan”, kata Dirjen. (Adli Minfadli Robby).